Selasa, 18 Maret 2008

1.1 Sejarah Iman dan Islam

Sejarah berasal dari kata شَجَرَۃٌ ,istilah ini terdapat dalam AlQuran, dalam bentuk مصدر, kata ini berarti ‘pertumbuhan’ atau ‘perkembangan’. Bentuk lainnya adalah سيرۃ yaitu perjalanan dan يوم yaitu peredaran, yang bisa berarti peredaran pada tempatnya (rotasi) atau peredaran mengelilingi (revolusi). Dalam subjudul sebelumnya disebut bahwa iman adalah pandangan dan sikap hidup manusia.
Sejarah iman akan menguraikan perjalanan, perkembangan dan pertumbuhan pandangan dan sikap hidup manusia sampai tahap pemaknaan iman. Dituturkan pula sejarah terbentuknya mengapa iman diartikan sebagai (hanya) ‘percaya’, seperti yang terjadi sekarang ini.

Sejarah iman diisi oleh dialog silih berganti antara masa nur dan masa Zulumat. Masa nur adalah ketika hidup manusia diterangi oleh petunjuk hidup dari Allah yang dibawa oleh rasulNya. Para rasul membawa petunjuk yang diberikan untuk umat manusia. Zulumat adalah masa ketika umat manusia meninggalkan petunjuk hidup dari Allah. Zulumat berarti kegelapan, artinya manusia berada dalam kegelapan, tidak bisa melihat petunjuk dan tatanan hidup yang benar dari Allah. Masa di mana manusia hidup tanpa tatanan, aturan hidup yang benar, hidup yang tidak teratur, tidak tertata dan kacau (chaos). Sejak zaman nabi Adam AS, keadaan nur dan zulumat terus silih berganti.
Adam Idris Ibrahim Isa Muhammad
Saat ini kita hidup pada masa setelah masa Muhammas SAW. Apakah kita berada pada masa zulumat. Mari kita lihat sejarah berikut.
Nabi Muhammad SAW meninggal di usia 63 tahun (dalam hitungan tahun hijriah). Terjadi tiga perisiwa besar sesaat setelah Nabi meninggal. Yaitu:
1. Sekitar 40 ribu orang Islam keluar dari Islam. Golongan ini dipimpin oleh Musalamah al Ahzab
2. Umar bin Khatab mengalami shock, guncangan jiwa yang hebat saat mengetahui nabi meninggal. Ia berkeliling kota dengan menghunus pedang dan mengancam akan membunuh siapapun yang berkata nabi telah meninggal. Umar tidak menerima kenyataan bahwa Muhammad telah meninggal.
3. Dalam kondisi ini terjadi pertengkaran antara kaum Muhajjirin (mukmin yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah) dengan kaum Anshar (mukmin penduduk kota Madinah). Mereka berdebat tentang siapa yang lebih berhak memimpin umat sepeninggal nabi.

Abu Bakar mengatasi ketiga kekacauan ini. Pertama yang dia lakukan adalah menyadarkan Umar bin Khatab. Abu Bakar membawa alQuran kepada Umar dan membacakan surat Ali Imran ayat 144 :”Dan Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sunggah telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Maka apakah kalau dia wafat atau dibunuh, kamu akan surut ke belakang (murtad). Barangsiapa surut ke belakang, maka ia tidak akan memudaratkan Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

Setelah mendengar ayat itu, Umar tersadar dari guncangan jiwa yang dialaminya. Umar bersama Abu Bakar menyelesaikan kekacauan sepeninggal Nabi. Abu Bakar mengatasi perselisihan yang terjadi antara kaum Anshar dan Muhajjirin dengan cara mempertemukan kedua pihak. Dengan musyawarah, perselisihan tersebut bisa diakhiri.
Atas kesepakatan bersama, Abu Bakar diangkat menjadi khalifah. Setelahnya diangkat pula khalifah-khalifah berikutnya dengan damai. Hingga pada kekhalifahan ke empat, Ali bin Abi Thalib, terjadi perselisihaan. Golongan yang pro pada Muawiyah menganggap, Muawiyah lebih berhak menjadi khalifah. Kelompok yang mendukung Muawiyah dikenal sebagai golongan Murjiah.

Setelah sidang tersebut, umat Islam terpecah menjadi empat golongan. Golongan pertama adalah kaum Syiah, yaitu kelompok yang mendukung Ali bin Abi Thalib. Kedua adalah kaum Murjiah, yaitu kelompok pendukung Muawiyah. Ketiga adalah kaum Khawarij, yaitu orang-orang yang sejak awal tidak menyetujui adanya sidang, karena Khawarij mengetahui kelicikan orang-orang Muawiyah. Kaum khawarij akhirnya menjadi kelompok garis keras yang menentang golongan yang mendukung Ali dan golongan pendukung Muawiyah. Dan golongan terakhir adalah segolongan orang yang tidak peduli pada konflik tersebut dan bersikap netral tanpa mendukung siapapun.

Setelah Muawiyah memenangkan peperangan, Muawiyah beberapa tindakan. Pertama, mereka memindahkan ibukota, dari Madinah ke Damaskus (Turki). Kedua, mengubah fungsi mesjid terbesar di ibukota menjadi istana. Ketiga, mengubah sistem pemerintahan, dari kekhalifahan (sistem kepemilihan) menjadi kerajaan (turun-temurun).

Lambat laun sikap para penguasa menjadi berubah. Mereka hidup dalam kemewahan hingga melupakan tanggung jawabnya pada rakyat, terutama rakyat kecil. Kaum Khawarij, yang adalah golongan oposisi garis keras, menentang pemerintahan Muawiyah. Kaum Khawarij menganggap Muawiyah tidak beriman lagi. Untuk mengatasi situasi ini, Bani Muawiyah mengumpulkan para ulama dan mengadakan sidang. Sidang para ulama tersebut menghasilkan putusan. Putusan ini berdasar pada sebuah hadits rasul. Namun, kalimat dalam hadits tersebut dipotong. Hadits rasulullah itu berbunyi.

Dan dipotong menjadi:
اَلْاِيْمَاعَقْدٌبِالْقَلْبِ
Hal ini dilakukan untuk menutupi kemungkaran yang telah dilakukan para penguasa. Putusan ini mencoba menyelamatkan mereka dari tuduhan kafir yang dilancarkan kaum Khawarij. Dengan memberi legalitas pemaknaan arti iman adalah ‘percaya’, bahwa iman adalah masalah hati, maka siapa pun tidak bisa menuduh orang lain adalah kafir karena iman hanya ada di dalam hati, sedangkan hanya Allah yang mengetahui isi hati seseorang. Sampai saat ini, arti iman adalah percaya, telah menjadi sangat populer dan dipakai oleh sangat banyak orang. Amal perbuatan menjadi tidak terkontrol lagi karena tidak ada kontrol dari sesama umat Islam. Lebih ironisnya lagi, dengan menjadikan iman sesorang sebagai hanya urusan hati, banyak orang yang masih merasa menjadi orang beriman tanpa disertai amal perbuatan yang baik dan dilandasi alQuran. Orang-orang ini diisi angan-angan masuk surga karena merasa menjadi orang beriman, yang Allah janjikan surga kelak di akhirat. Singkatnya, ada pemahaman keliru, “Sebanyak apa pun dosa saya, saya akan tetap bisa masuk surga, karena saya adalah orang beriman, yang percaya pada Islam”.

Akankan Allah menyediakan surga bagi orang yang selalu melakukan perbuatan dosa dan selalu membuat kerusakan di muka bumi, hanya karena orang itu percaya pada Islam? Allah maha adil, setiap orang akan mendapat balasan atas setiap perbuatannya, Ali Imran 161-162.
Silahkan Anda selidiki surga atau neraka kah hidup yang sedang dijalani oleh para pendosa di bumi. Anda tidak perlu menunggu di akhirat untuk membuktikan sebuah kebenaran. Kebenaran bisa kita dapat saat ini, di sini.

sumber: tulisan penulis berdasar materi studi Quran

13 komentar:

zeronet mengatakan...

semoga kita menjadi penyanjung hidup menurut ilmu allah.......salam dari indonesia

arrad prasada mengatakan...

wah mba dulu belajar dari mana, sejarah iman.

ada tentang definis iman nya engga mba, yang lebih objektif?

mau donk belajar lagi,

kirim ke mail aku mba, tentang IMAN nya? "agculg4l@yahoo.com" mail

thank ya sebelumnya

Anonim mengatakan...

Kesempurnaan dari pencolengan ilmu.
Mari kita berpikir logis, karena kita diberi kemampuan untuk itu. Apa yang seorang manusia ketahui begitu dilahirkan? Kepandaian apa yang ia miliki? Ilmu apa yang ia miliki??
NIHIL!!
Bila kita adalah orang pertama yang merasakan air laut yang asin, apakah berarti kita yang menggaraminya??
Hal2 yang kita ketahui, kuasai, pahami, APAPUN ITU, adalah pantulan dari suatu penanggapan. Tanpa input, mustahil output.
Karena EGO, motif2 tertentu, dan segudang alasan lainnya, apa yang ditanggapi kemudian di-AKUI, dimodifikasi, lalu disebarkan sesuai keinginan atau kebutuhan (akan pengakuan) jauh diluar sistem dan manajemen.
Sebagai manusia kita dituntut untuk sami'na wa ata'na... tanpa tedeng aling-aling, tanpa motif2 tertentu patuh dan tunduk pada Ilmu-Nya.
Bagi saya, Ibu hanya seorang PLAGIATOR, pencoleng ilmu yang haus akan pengakuan.

Nurisah mengatakan...

Bismillahirrahmanirrahiim..
Allah Maha tahu

terima kasih untuk pendapat Anda.

Saya tidak keberatan disebut PLAGIATOR, yg trpenting bagi saya, memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi saya dan manusia lainnya.

Anonim mengatakan...

Saran saya, Ibu kembali ke sistem, perbaiki kembali makna "Bismillahirrahmanirrahiim.." karena arti yang Ibu tuliskan tidak menurut Al Quran. Yang Ibu tuliskan adalah ilmu yang aduk-adukan 'haq' dan 'subyektivisme'. Lalu manfaat apa yang Ibu bagikan kepada sesama dengan hal begitu? Hilangkan 'an fus/ ego", barter dengan jannah... It's hard... but we all have to do it :)
Anyway, itu semua adalah pilihan Ibu sendiri, kan memang setelah studi kita tetap dibebaskan untuk memilih, namanya juga 'khalifah..'.
Saya di sini untuk mengingatkan Ibu, dan para pembaca blog Ibu, bahwa suatu ilmu harus selalu dapat dipertanggungjawabkan keobyektifannya. Kebenaran itu bukan hasil 'ide' atau 'reflect', apalagi aduk-adukannya. Apa yang Ibu tuliskan di sini menunjukkan sisi lain dari hasil 'studi'.
Jalin kembali koordinasi dengan yang telah menyampaikan Ilmu kepada Ibu, agar tidak putus begitu saja dan jadi tak menentu.
Maaf bila komentar ini tidak berkenan, maklum masih sekolah :) Thanks.

Allah dengan Al Quran Menurut Sunnah Rasulnya, maha meng-ilmui semesta alam...

Nurisah mengatakan...

halo mr anonim, mungkin banyak hal yg yg saya tdk tahu ttg "ilmu" ini, atau mungkin penyampaian "ilmu" tsb pd saya yg tdk 100%, sungguh saya tidak tahu.
terima kasih atas saran dan kritiknya

Anonim mengatakan...

Assalamualaikum...,
Ibu dulu belajar sama siapa, di mana?

Nurisah mengatakan...

mr anonim, boleh saya minta email anda?
agar kita bisa saling komunikasi di luar blog ini?
di sumber pustaka, saya sdh cantumkan nama sumber tulisan saya.

Anonim mengatakan...

halo mr anonim, mungkin banyak hal yg yg saya tdk tahu ttg "ilmu" ini, atau mungkin penyampaian "ilmu" tsb pd saya yg tdk 100%, sungguh saya tidak tahu.
terima kasih atas saran dan kritiknya

Learning is a never ending journey.. gitu kira-kira kata orang barat mah... jadi memang tidak boleh putus koordinasi. Sudah dapat arti "ar rahman"-nya belum :)
Memang dulu diajarkannya artinya "penyayang"? Coba Ibu cross check dalam surat Ar Rahman itu sendiri... Saya yakin kemampuan tata bahasa Ibu jauh lebih baik dari saya. Saya sendiri masih baru kencur, bukan pemilik Ilmu ini, hanya mencoba untuk menjadi penyanjung tatanan kehidupan menurut-Nya.

Anonim mengatakan...

with pleasure, Ibu Nurisa... :)
meraclo@hotmail.com

Anonim mengatakan...

Assalamu'alikum wr. wb.
tolong dong bu Isa kirim semua materi ke e-mail saya indy_pink77@yahoo.com saya juga punya materi yang sama, cuma susunannya agak berbeda

Wassalamu'alikum wr. wb.

bahar_gr_mtk mengatakan...

dialog antara b nurisa dengan mr anonim sangat menarik, tolong ajarkan saya tentang ini semua, kapan saya dapat bertemu dengan anda2 semua? saya minta alamat email atau no telp yang dapat dihubungi!

Mr. ??? mengatakan...

kalian blum pernah ratil.........???? Nulis sembarangan.... Salah tempat

PERHATIAN

MAAF BLOG SEDANG DALAM PERBAIKAN, ISINYA TIDAK DIJAMIN BENAR

Cari aja disini..

Google
 

Sign by Dealighted - Coupons and Deals





Arsip Blog

Bertanyalah

Siapakah Anda? Di manakah Anda? Apa yang Anda lakukan sekarang? Untuk apa Anda hidup? Bagaimana Anda menjalani hidup? Mengapa Anda melakukannya? Darimanakah Anda? Kemanakah Anda akan pergi?



Pembaca