Selasa, 18 Maret 2008

5. Quran dan ilmu


5.1 Quran sebagai ilmu

Istilah ilmu diambil dari Quran عِلْمٌ. Ada beberapa pemahaman terhadap kata ‘ilmu’. 1. menurut orang Arab, ilmu itu pelita hati. 2.menurut orang-orang di belahan dunia barat, science is organized body of principle supported by fact, (ilmu tersusun atas pernyataan dengan didukung fakta). 3. Allah menerangkan dengan Quran tentang alam semesta; matahari, bulan, manusia, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain kepada manusia. Dengan demikian, ilmu adalah rangkaian keterangan dari Allah tentang kenyataan hidup disertai faktanya.
Syarat-syarat sebuah ilmu menurut kesepakatan ilmiah adalah metodis, sistematis, analitis dan objektif. Saat ini, asas keilmuan adalah hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta. Manusia sebagai subjek meneliti semua hal yang ada di alam ini sebagai objek. Dengan semua syarat ilmiah tersebut, maka Quran adalah sebuah kumpulan ilmu, dengan alasan berikut:
5.1.1 MetodisMenurut Quran, ada tiga pokok dalam asasnya, yang saling terkait dengan sebuah garis linier. Yaitu Allah, manusia dan alam.

Quran membebaskan manusia untuk mengkaji semua ciptaanNya, alam semesta dan seisinya. Jika dianalagikan, matahari menyinari benda-benda di sekitarnya. Matahari menyinari bumi dan bulan. Di malam hari, sinar yang diterima bulan dari matahari, ia pantulkan ke bumi. Intinya, ada garis pantul dari matahari ke bulan, dari bulan ke bumi. Tidak mungkin bulan menerangi matahari.
Allah memberi pengetahuan pada manusia sejak manusia pertama ada di bumi ini. Allah memberi ilmu kepada Adam as dan memberinya akal pikiran. Allah mengajarkan asma-asmaNya. Asma, yaitu Ismun dalam bahasa Quran, dan dunia mengadopsinya menjadi kata Isme. Ismun berarti ilmu, paham, asas, pandangan atau nama. Ditilik dari keseluruhan ayat di dalam Quran, maka Ismun berarti ilmu atau ajaran, dan bukanlah nama seperti yang umumnya ada. Itu artinya, Allah telah mengajarkan ilmu-ilmuNya tentang ciptaanNya kepada Adam. Karena pengetahuan inilah yang menyebabkan perintah Allah kepada iblis untuk sujud kepada Adam.

Allah menciptakan manusia dengan naluri ilmiahnya, keinginan dasarnya, yaitu memiliki rasa ingin tahu. Setelah pengetahuan asma-asma (ilmu) yang diberikannya pada Adam, Allah pun menurunkan kitab-kitab suciNya untuk membimbing golongan kaumNya. Dan Quran adalah kitab suci terakhir untuk membimbing seluruh umat manusia. Quran menjadi petunjuk manusia dalam menjalani kehidupannya, termasuk dalam menjalani sifat insaniahnya yaitu memenuhi keingintahuannya.
Di dunia barat, tidak terdapat aturan keilmuan seperti ini. Setiap hal bisa dikaji oleh manusia, termasuk sang khalik, Allah SWT. Ini sama dengan analogi bulan menerangi matahari. Sedangkan bulan hanya mampu memantulkan (tidak memiliki sinarnya sendiri) cahayanya pada bumi.
Allah adalah pencipta dan manusia adalah makhluk ciptaanNya. Mungkinkah ciptaan meneliti penciptanya, mampukah makhluk mengkaji Khalik?

5.1.2 Sistematis
Quran disusun oleh Allah dan bukan disusun atas kehendak Muhammad.
سورۃ١نزلناهاوفرضاهاو١نزلنافيها١يتبينا
Quran disusun secara sistematika berikut:
1. Pendahuluan (AlFatihah)
2. Uraian (surat-surat panjang)
3. Kesimpulan (surat-surat pendek)

Fatihah di awal sebagai pembuka karena Fatihah merupakan ummul kitab atau induk Quran. Makna kandungan surat ini mencakup keseluruhan isi Quran. Tidak sedikit orang yang menganggap membaca Fatihah pahalanya sama dengan membaca seluruh isi Quran. Bagi saya, itu tidak benar. Allah tidak akan menurunkan seluruh isi Quran jika hanya dengan satu surat Fatihah saja sudah bisa menjadi pedoman hidup manusia. Sedangkan saat ini pengertian pahala itu sendiri menjadi lebih dibiaskan pada pengertian imbalan dari Allah pada manusia. Padahal setiap kali kita melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya akan muncul kebaikan bagi diri kita sendiri dan bagi manusia pada umumnya. Kebaikan itu selalu membawa manfaat. Dan tentang balasan dari Allah kelak di akhirat itu akan terjadi dengan sendiri. Kita tidak perlu menghitung-hitung imbalan pahala karena bukanlah menjadi tujuan dan karena pahala bukanlah imbalan matematis.

Sistematika Quran
a. Sistematika surat
Susunan Quran ditentukan oleh Allah. Turunnya ayat-ayat Quran sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Sebelum Quran diturunkan kepada Muhammad, Quran telah siap seluruhnya100% di Lauh Mahfuz. Surat-surat di dalam Quran saling menjelaskan satu sama lain.
b. Sistematika Ayat

5.1.3 AnalitisAnalisa adalah penjajakan suatu hipotesa atau dugaan ke dalam pembuktian. Demikian pula Quran, di mana seluruh isinya dapat dibawa ke dalam pengujian atau pembuktian. Walaupun, karena keterbatasan ilmu manusia, pembuktian kebenaran Quran terjadi secara bertahap, waktu demi waktu.
Contohnya, dalam Quran ada ayat-ayat tentang prediksi kejadian yang saat itu belum terjadi. Misalnya, tentang mimpi Nabi Yusuf yang menceritakan sebelas bintang, matahari dan bulan sujud padanya. Artinya, sebelas saudara Nabi Yusuf tunduk pada Yusuf dan menyatakan penyesalan atas sikap mereka yang buruk. Dan mimpi ini terbukti di lain masa, saat Yusuf menjadi raja di Mesir.

Ayat lainnya bercerita tentang kekalahan pasukan Quraish ketika berperang dengan Nabi.Dalam hal science, saat Quran turun, ilmu pengetahuan di dunia barat belum berkembang seperti sekarang. Quran telah menuturkan tentang proses penciptaan manusia, bumi dan alam semesta. Pada saat itu orang-orang belum memahami sepenuhnya realitanya dalam dunia nyata. Jika baru pada abad 17 teori geosentris milik Plato dan juga Aristotelas tergeser oleh heliosentris sang Galileo Galilei yang didukung Newton dan Copernicus, Quran telah memberikan kebenarannya pada abad ke 6.
Dan jika pada abad ke 18, orang-orang baru mengkaji unsur-unsur pembentuk manusia dan kehidupan. Quran telah menyatakannya berabad-abad sebelumnya. Allah menurunkan Quran bukanlah untuk menghentikan keingintahuan manusia tentang alam semesta. Quran diperuntukkan sebagai landasan berpijak yang benar untuk membantu semua langkah manusia, termasuk langkah dalam ilmu pengetahuan.

5.1.4 Objektif
Dalam surat Ar-Rum, diceritakan bahwa bangsa Romawi akan kalah dalam xxxx. Dan kemudian hari, ternyata benar, Romawi mengalami kekalahan.

sumber: tulisan penulis berdasar materi studi Quran dan referensi lainnya

3 komentar:

zeronet mengatakan...

semoga kita menjadi penyanjung hidup menurut ilmu allah yakni al-qur'an menurut ilmu allah

Anonim mengatakan...

maaf mbak nurisah, kalo boleh tau, mbak nur dulu belajarnya sama siapa? ini emang kebenaran yang saya cari. udah lama saya nyari ilmu yang ilmiah ini, dan kalo boleh nambah informasi lagi, kepada siapa dan dimana saya bisa ngaji Al quran menurut sunnah rasul?(yang di indonesia). ini alamat email saya: serremdech@yahoo.co.id

syajarotun nuqud mengatakan...

semua ilmu bagus kalo tanpa ridho allah tidak akan bagus semua manusia mesti belajar ilmu yang sudah ada di pelajari seperti tarekat marifat syareat tasawuf aqidah ahlaq fiqih dan alquran dan hadist yang di sebut sunah itu adalah kunci menuju allah apabila tidak mengikuti sunah nabi muhammad saw tidak mempunyai kunci maka kuncinya ada di ibadah sholat pelajari ilmu2 fiqih dan yang lainnya biar tau tentang sholat apa itu sifat sholat? apa itu kaifiat sholat? apa itu cara sholat? belajarlah kepada para ulama2 ustadz atau kiyai jangan hanya kepada satu sisi ilmu bahasa belajarlah paham ahlu sunnah waljamaah seperti NU saya yakin ajaran pak isa bugis pun mempunyai bahasa tersendiri mengedepankan logika akal bukan yakin akan kebesaran dan ridho allah dia merombak bahasa sedemikian rupa anda coba pelajari tentang sejarah kembali dengan sitem pembuktian purbakala seperti sains quran K.H FAHMI BAHSYA

PERHATIAN

MAAF BLOG SEDANG DALAM PERBAIKAN, ISINYA TIDAK DIJAMIN BENAR

Cari aja disini..

Google
 

Sign by Dealighted - Coupons and Deals





Arsip Blog

Bertanyalah

Siapakah Anda? Di manakah Anda? Apa yang Anda lakukan sekarang? Untuk apa Anda hidup? Bagaimana Anda menjalani hidup? Mengapa Anda melakukannya? Darimanakah Anda? Kemanakah Anda akan pergi?



Pembaca